Quote

Berkenalan dengan teman-teman Waria dari SWARA

Tags

, , , , , , , , ,

Catatan agustus 2014.
Yang paling menarik dan menyenangkan adalah di tanggal 18, 19 dan 20 agustus kemarin. Saya dapat kesempatan untuk berkenalan dengan beberapa teman-teman dari SWARA, bukan suara wakil rakyat, tapi Sanggar Waria Remaja. Tidak hanya berkenalan saja, tapi tujuan utama saya ada bersama mereka adalah untuk membantu mereka lebih memahami ilmu komputer dasar. Kegiatan ini difasilitasi oleh Yayasan Indonesia Untuk Kemanusiaan (YSIK), yang berkantor di daerah Cikini, Jakarta.
Sekitar awal agustus 2014 saya dapat email balasan dari YSIK atas respon saya yang mengajukan diri sebagai sukarelawan untuk membantu mengajar. Karena beberapa hal mereka lambat memberi kabar ke relawan, sampe hampir lupa saya kalo pernah ngedaftar jadi relawan.
Jadi di tiga hari itu saya berkesempatan mengajar 6 dari total 12 peserta. Saya ambil kelas mengajar di pagi hari, jam 9-13, bertempat di kantor YSIK, di Cikini, Jkt. Kelas siangnya dengan 6 peserta lainnya diajar oleh relawan lain, dari komunitas Good Life Society. Saya sendiri dari komunitas mana? hahaa entahlah… Mereka pun kaget dengan kedatangan saya yang dari antah berantah tiba-tiba bisa sampai di sana, mereka bilang jarang ada relawan individual. :/
Teman-teman yang saya ajar disini adalah bagian dari komunitas/lembaga SWARA, usia 22-34 tahun dengan latar belakang pendidikan SMP-SMA. Ilmu komputer mereka masih sangat minim, karena itu diadakan pelatihan komputer ini dengan tujuan untuk mereka bisa menunjang pekerjaan-pekerjaan di yayasan/lembaga menjadi lebih efektif. Salut saya untuk yayasan/lembaga yang mau mempekerjakan orang tanpa diskriminasi sedikitpun. Oh ya, mereka ini juga punya Salon di daerah Pisangan, Jakarta timur, tempatnya menyatu dengan tempat lembaga SWARA itu sendiri.
Awalnya grogi banget disuruh ngajar mereka, karena saya bukan pengajar dan belum berpengalaman mengajar. Tapi sebentar saja grogi saya hilang, suasana segera berubah jadi santai. Mungkin karena umur kami yang hampir seumuran, jadi masing-masing dari kami bisa mengkondisikan suasana kelas menjadi lebih akrab. Lebih seperti sharing antar teman saja. Semuanya bisa saling menghargai satu sama lain.
Di hari kedua, apalagi ketiga, suasana semakin santai, banyolan khas waria semakin banyak dilontarkan. “Dasar banci!” sering saya dengar diantara percakapan mereka. Hahaaa…ada-ada aja. Mungkin akan lain makna umpatan “dasar banci!” jika yang mengatakannya adalah orang di luar komunitas mereka :D. Yang lucu lagi, waktu saya minta mereka menyalin artikel dari koran, salah satu dari mereka pengennya menyalin sekaligus menterjemahkan bahasa di koran dengan bahasa banci.. xD Aahhh…gak ngerti dah saya bagian yang ini… ^^ Dan di hari kedua, sebelum kelas dimulai, seorang staff YSIK, namanya Sohibi, nyamperin saya untuk minta dikirimin materi kelas. Saya tanya, untuk apa? Katanya untuk dia belajar. Dia bilang belum lancar komputernya. Saya bilang “yaahhh…kenapa gak bilang dari kemaren, tau gitu kan bisa sekalian ikut kelas dari kemaren.” Terus ya saya suruh aja dia ikut kelas hari itu dan besoknya. Jadi deh..dia laki-laki yang paling utuh di kelas..hahaa..
Sekedar untuk mengetes ingatan saya, sekarang saya mau coba inget-inget nama temen SWARA. Koordiantor mereka ada Anggun dan Kamel, sementara pesertanya ada Citra, Echa, Vina,….mmm astagaaaa T.T beneran lupa kan nama yang lainnya…emang ingetan saya gak pernah bagus nih. Maafkan…
Di hari terakhir saya diajak salah satu staff YSIK untuk berkeliling kantor YSIK dan berkenalan dengan staff lainnya. Kesan saya, kantornya bersih, rapi, suasananya tenang dan semuanya ramah.
Kesimpulannya, saya senang bisa punya pengalaman berbagi bersama teman-teman SWARA dan juga berkenalan dengan teman-teman dari YSIK. Dan siap untuk membantu mereka di kesempatan lainnya.

Saya tahu masih banyak di sekitar saya yang maha sempurna sehingga mereka merasa boleh mencemo’oh kaum yang berbeda, terutama dalam hal ini, waria.

Tentang ini saya ingin mengutip quotes:

“Don’t judge others just because they sin differently than you do!”
………Just do the best you can do to help others life better.

 

Ya kira-kira begini suasana belajar komputernya

Ya kira-kira begini suasana belajar komputernya

Serius tapi santai belajarnya..

Serius tapi santai belajarnya..

Advertisements

Matinya Sang Maestro [catatan penonton]

Tags

, , , , , , ,

Selasa, 13 mei 2014 kemarin saya dan beberapa teman menyempatkan diri untuk menonton pentas ulangnya “Matinya Sang Maestro” di Graha Bakti Budaya, TIM, Jakarta. Acara dimulai dari jam 8 malam hingga sekitar 11 malam kurang.

Penggagas ceritanya adalah Butet Kartaredjasa, Agus Noor dan Djaduk Ferianto. Pada nama yang terakhir, turut serta dalam pementasan, berlagak sebagai pengamen.

Singkat cerita, tentang seniman yang hidup miskin dan terlupakan di hari tuanya. Suatu saat kemudian dia mendapatkan penghargaan dari pemimpin di kotanya berupa uang 1 milyar. Tapi masalahnya uang itu hanya bisa diberikan jika sang seniman telah meninggal dunia.

 

*setelah menonton pertunjukan*

Pertama, yang menarik perhatian pada pertunjukan hari itu adalah salah satu penonton yang hadir pada malam itu, yaitu Boediono, wakil Presiden. Salut saya sama Pak Boediono yang berani datang untuk menonton pementasan itu. Maklum saja karena yang punya panggung malam itu adalah Butet Kertaredjasa dkk, yang seringkali melontarkan kritik pedas terhadap pejabat-pejabat negeri ini. Maka tak luput lah Boediono kena sindir atau candaan dari mereka yang berada di atas panggung. Apalagi belakangan lagi heboh mengenai sidang Century.

Selain itu sindiran lain tertuju kepada Bapak yang belakangan ketahuan suka sama boneka Teddy Bear. HAHA. #kodelumpur

Kedua, beberapa kali saya merasa hilang fokus ke luar panggung. Ini sih hal yang pribadi, saya memang kurang suka dengan pertunjukan yang pada satu adegannya terlalu banyak percakapan basa-basi. Dan juga bosan dengan beberapa humor yang sehari-hari sering saya dengar.

Ketiga, beberapa dari kami melewatkan beberapa percakapan di atas panggung karena tidak mengerti bahasa Jawa. Ya, cukup sering juga pementas berdialog dengan bahasa Jawa. Tapi ya gak apalah, bukan masalah besar.

Keempat, kata teman saya, seperti ada scene yang hilang. “tiba-tiba langsung sampai di adegan sang seniman menolak penghargaan.” Ya begitulah kira-kira…saya juga bingung.

Kelima, mengenai musik dangdut dan tariannya yang sedang ramai di tv. kalau saya tidak salah hitung, pada pertunjukan malam itu ada tiga kali “goyang Cesar.” Menurut teman saya itu adalah bentuk sindiran, tapi menurut saya malah sebaliknya. Terlalu banyak goyangnya jadi semacam bentuk apresiasi..hehee… Tidak ada yang salah dengan goyang dan lagunya, hanya saja membosankan kalau disajikan terlalu sering.

Keenam, ini yang mengganggu saya dan seorang teman saya juga merasakannya. Pada akhir cerita, sang seniman yang diperankan oleh Cak Kartolo tiba-tiba datang membawa celurit dan berpakaian khas Madura, ceritanya dia ngamuk pada saat peresmian patung seniman dan membubarkan semua yang hadir di acara itu. Begini ya, dari awal cerita saya tahunya sang seniman itu berlatarbelakang suku Jawa, walaupun saya tidak tahu persis Jawa sebelah mananya. Jelas saya tidak mendengar logat Madura keluar dari sang seniman pada adegan di panggung, juga tidak ada pakaian khas Madura muncul di panggung sebelum adegan ngamuknya sang seniman. Tapi kenapa tipikal khas Madura muncul tiba-tiba saja hanya pas adegan ngamuk dengan membawa celurit? Kenapa nggak sang seniman muncul untuk ngamuk dengan pakaian khas Jawa saja? Pakai lurik?. Saya gak suka adegan penutup ini. Atau mungkin saya salah menangkap makna? bisa saja, dan mungkin lebih baik saya yang salah.

Ketujuh, kami setuju dari keseluruhan adegan di panggung, yang paling mengesankan adalah tariannya Didik Nini Thowok. Keren banget.

Kedelapan, udahan ah.

 

Matinya Sang Maestro (pentas ulang)

fotonya dari Rosa Mariany

Indonesia Kita

Recesky TLR Camera

Tags

, , , , , , , ,

20130713-231728.jpg

On the box its only written “Twin Lenses Reflex Camera (TLR). No brand or trademark. But many people called it Recesky. Dont ask me why?.

I always love to see TLR by its appereance or design. Classic. And before i know about Recesky, actually i want to buy Holga TLR. Then why do i choose Recesky?. Its only because Recesky comes in Do It Yourself Camera. Yes, i love to assembling stuff by self. Just like my previous post about shoes, i buy that shoes because “DIY” theme. Im so excited about this.

20130713-234223.jpg

There is six colors option for Recesky. I choose red (because the seller only have red and black). Its written need one hour with knife or scissor to assembly the camera. In fact, for newbie like me it need more than one hour. And i get more difficult because the manual book written in China (i dont understand) and its printed not well, the pictures is not clear. It can be harm my eyes. So i search the manual on internet. Its really help me a lot.

20130714-000439.jpg

Beside the manual book, The TLR Camera comes in package with screwdriver. But i think its better to use magnetic screwdriver.

20130714-000618.jpg

You must be carefully when assembling this Recesky, its made from plastic so dont push it too hard or you may broke it. I did broke a part from viewfinder cover, but its not a big deal because its no effect to main function.
And the most important is the shutter, make sure the shutter work before you screwing all part.

And finally after an excited carefully work, i finished the camera assembling. 😀 Yay!. Cant wait to take the hip shoot and processing it.

I dont know if this camera is a fake one from other brand or no. But if its fake, so i finally found a good fake things from China. I love it. Heheee… 😀

Well, we can’t live without (made in) China right?. Though my stupidphones is USA brand but it assembled in China. :s

Notes: i dont know what “SJ” in viewfinder front cover mean.

20130714-002053.jpg

BergYu (Burger Wagyu) at Holycow by Chef Afit

Tags

, , , , , ,

Dear Burger Lovers,

Have you tried this?

It’s call BergYu, burger with wagyu beef. Taste great. The beef is so smooth. Comes with fries and tasty sauce. I tried this menu in Kelapa Gading, Jakarta branch. Forget the small place and waiting list, this is worth to try again and again.

by Holycow Chef Afit - Kelapa Gading

by Holycow Chef Afit – Kelapa Gading

Voya Moccasin Kit (Shoe)

Tags

, , , , , , , ,

Merakit Sepatu

Voya Shoe ini adalah produk sepatu lokal dari Bandung. Saya lupa bisa tau produk ini dari mana. Moccasin Kit ini idenya sangat menarik, beli sepatu tapi kita yang merakit sepatu itu sendiri, berdua sama tukang kebun juga boleh. Jadi kita beli sepatu yang belum jadi atau setengah matang. Ya antara si penjual nya yang males nyelesein nih sepatu atau konsumen nya yang terlalu rajin.

Moccasin Kit nya ini ada dua jenis, yang berbahan kulit dan suede. Saya beli yang Suede karena terinspirasi dari Beautiful Ones dan She’s in Fashion. Bagus atau tidaknya hasil sepatu tergantung tangan dan selera yang merakit, harus teliti, rapih, dan sabar dan pantang menyerah. Beberapa kali saya merakit ulang sepatu ini karena sedikit kesalahan dan demi mencapai hasil terbaik.

Pada hasil akhir, saya puas dengan sepatu hasil rakitan saya, bagus walau agak meletot-meletot bagian pinggirnya karena bahannya yang lemes. Tapi ternyata setelah dicoba hasilnya kebesaran, walau ukuran alas kaki nya pas dengan kaki saya dan tali sekeliling sudah pada posisi ketat. Apa yang menyebabkan menjadi kebesaran? saya pikir karena bentuk sepatu yang seperti perahu, juga bahan sepatu yang lemes dan tipis menyisakan ruang di sekitar kaki. Mungkin seharusnya saya beli yang ukuran di bawah saya kali ya… Jadi sampai sekarang sepatu saya itu hanya nangkring di kamar, belum pernah dipakai. 😦

Jadi menurut pengalaman saya di luar dari pengalaman kebesaran, sepatu yang memiliki model sepanjang masa ini menarik dari segi ide, bahannya bagus, harga terjangkau, dan cintailah produk dalam negeri. 😀

 

Voya Moccasin Kit