Tags

, , , , , , ,

Selasa, 13 mei 2014 kemarin saya dan beberapa teman menyempatkan diri untuk menonton pentas ulangnya “Matinya Sang Maestro” di Graha Bakti Budaya, TIM, Jakarta. Acara dimulai dari jam 8 malam hingga sekitar 11 malam kurang.

Penggagas ceritanya adalah Butet Kartaredjasa, Agus Noor dan Djaduk Ferianto. Pada nama yang terakhir, turut serta dalam pementasan, berlagak sebagai pengamen.

Singkat cerita, tentang seniman yang hidup miskin dan terlupakan di hari tuanya. Suatu saat kemudian dia mendapatkan penghargaan dari pemimpin di kotanya berupa uang 1 milyar. Tapi masalahnya uang itu hanya bisa diberikan jika sang seniman telah meninggal dunia.

 

*setelah menonton pertunjukan*

Pertama, yang menarik perhatian pada pertunjukan hari itu adalah salah satu penonton yang hadir pada malam itu, yaitu Boediono, wakil Presiden. Salut saya sama Pak Boediono yang berani datang untuk menonton pementasan itu. Maklum saja karena yang punya panggung malam itu adalah Butet Kertaredjasa dkk, yang seringkali melontarkan kritik pedas terhadap pejabat-pejabat negeri ini. Maka tak luput lah Boediono kena sindir atau candaan dari mereka yang berada di atas panggung. Apalagi belakangan lagi heboh mengenai sidang Century.

Selain itu sindiran lain tertuju kepada Bapak yang belakangan ketahuan suka sama boneka Teddy Bear. HAHA. #kodelumpur

Kedua, beberapa kali saya merasa hilang fokus ke luar panggung. Ini sih hal yang pribadi, saya memang kurang suka dengan pertunjukan yang pada satu adegannya terlalu banyak percakapan basa-basi. Dan juga bosan dengan beberapa humor yang sehari-hari sering saya dengar.

Ketiga, beberapa dari kami melewatkan beberapa percakapan di atas panggung karena tidak mengerti bahasa Jawa. Ya, cukup sering juga pementas berdialog dengan bahasa Jawa. Tapi ya gak apalah, bukan masalah besar.

Keempat, kata teman saya, seperti ada scene yang hilang. “tiba-tiba langsung sampai di adegan sang seniman menolak penghargaan.” Ya begitulah kira-kira…saya juga bingung.

Kelima, mengenai musik dangdut dan tariannya yang sedang ramai di tv. kalau saya tidak salah hitung, pada pertunjukan malam itu ada tiga kali “goyang Cesar.” Menurut teman saya itu adalah bentuk sindiran, tapi menurut saya malah sebaliknya. Terlalu banyak goyangnya jadi semacam bentuk apresiasi..hehee… Tidak ada yang salah dengan goyang dan lagunya, hanya saja membosankan kalau disajikan terlalu sering.

Keenam, ini yang mengganggu saya dan seorang teman saya juga merasakannya. Pada akhir cerita, sang seniman yang diperankan oleh Cak Kartolo tiba-tiba datang membawa celurit dan berpakaian khas Madura, ceritanya dia ngamuk pada saat peresmian patung seniman dan membubarkan semua yang hadir di acara itu. Begini ya, dari awal cerita saya tahunya sang seniman itu berlatarbelakang suku Jawa, walaupun saya tidak tahu persis Jawa sebelah mananya. Jelas saya tidak mendengar logat Madura keluar dari sang seniman pada adegan di panggung, juga tidak ada pakaian khas Madura muncul di panggung sebelum adegan ngamuknya sang seniman. Tapi kenapa tipikal khas Madura muncul tiba-tiba saja hanya pas adegan ngamuk dengan membawa celurit? Kenapa nggak sang seniman muncul untuk ngamuk dengan pakaian khas Jawa saja? Pakai lurik?. Saya gak suka adegan penutup ini. Atau mungkin saya salah menangkap makna? bisa saja, dan mungkin lebih baik saya yang salah.

Ketujuh, kami setuju dari keseluruhan adegan di panggung, yang paling mengesankan adalah tariannya Didik Nini Thowok. Keren banget.

Kedelapan, udahan ah.

 

Matinya Sang Maestro (pentas ulang)

fotonya dari Rosa Mariany

Indonesia Kita

Advertisements